Sukoharjo.Rilisjateng.com – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi meminta para bupati/wali kota di Jateng agar mengantisipasi potensi kekeringan di wilyahnya masing-masing. Hal itu disampaikan Luthfi setelah menghadiri acara panen raya padi di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Rabu (24/6/2026).
Luthfi menyambut panen raya padi di Sukoharjo. Namun dia mengingatkan musim kemarau panjang masing mengintai.
“Ke depan tantangannya adalah perubahan musim. Perkiraannya musim kemarau akan panjang. Karena itu seluruh bupati dan wali kota harus melakukan mapping (pemetaan) wilayah yang terdampak kekeringan agar target swasembada pangan dapat terpenuhi,” ucapnya.
Dalam dialog bersama petani di Desa Gentan, beberapa petani menyampaikan sejumlah aspirasi, mulai dari kebutuhan air untuk musim tanam ketiga (MT III), jaringan listrik untuk sumur pertanian, bantuan combine harvester, alat pengolah tanah, hingga perbaikan jalan usaha tani dan saluran irigasi. Menanggapi hal itu, Luthfi memastikan Pemprov Jateng akan mengoptimalkan dukungan sarana dan prasarana pertanian.
“Yang penting air sampai ke sawah dan kebutuhan petani terpenuhi,” kata Luthfi.
Luthfi mengungkapkan, proyeksi produksi gabah kering giling (GKG) di Provinsi Jateng sepanjang Januari-Juli 2026 yakni 6,69 juta ton. “Target nasional yang 10,5 juta ton harus kita penuhi di akhir tahun,” katanya.
Khusus Sukoharjo, Luthfi menyebut, produksi GKG di sana telah mengalami kenaikan 25 persen atau hampir 160 ribu ton. “Ini menjadi percontohan bagi kabupaten lain, ia sudah menggunakan alat modern, kemudian sudah dua-tiga masa tanamnya, dan lain sebagainya,” ucap Luthfi.
Persiapan Bantuan Air
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan, sebanyak 28 kabupaten/kota di Jateng telah menyiapkan bantuan air bersih untuk menghadapi potensi kekeringan akibat fenomena El Nino. Total bantuan air yang siap disalurkan mencapai 123 juta liter.
Bergas mengungkapkan, Jateng pernah menghadapi kekeringan akibat El Nino pada 2019 dan 2023. Menurut Bergas, hal itu menjadi pembelajaran bagi BPBD di kabupaten/kota untuk mengantisipasi berulangnya fenomena serupa. Salah satu isu yang harus dimitigasi adalah soal ketersediaan dan pasokan air bersih untuk masyarakat di daerah terdampak.
“Kita sudah melakukan rapat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota, karena mereka yang pertama dan harus bersiap-siap menghadapi kemarau itu. Kalau di kami kaitannya dengan kebutuhan air bersih,” kata Bergas ketika diwawancara pada 17 April 2026 lalu.
Dia menjelaskan, berkaca dari kekeringan akibat El Nino pada 2019 dan 2023, BPBD Jateng meminta pemerintah kabupaten/kota, melalui BPBD-nya masing-masing, mengalokasikan anggaran khusus untuk penyediaan bantuan air bersih.
“Kita melihat historis di 2019 dan 2023 untuk kita melangkah di 2026, salah satunya kebutuhan-kebutuhan wilayah yang berkaitan dengan kebutuhan air bersih yang bisa digerakkan oleh pemerintah, terutama pemerintah daerah. Maka kita mengingatkan kepada BPBD (kabupaten/kota) untuk 2026 dan 2027 nanti menganggarkan itu (bantuan air bersih),” ucap Bergas.
Menurut Bergas, dari 35 kabupaten/kota, BPBD di 28 daerah di Jateng sudah menganggarkan bantuan air bersih untuk mengantisipasi kekeringan akibat El Nino. “Jadi ketersediaan total dari kabupaten/kota, kita menyediakan 123 juta liter,” ujarnya.
Jumlah persisnya yang tercatat BPBD Jateng adalah 123.194.226 liter. BPBD Kabupaten Klaten menyediakan bantuan air bersih terbanyak, yakni 57,69 juta liter. BPBD Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Semarang menyusul di posisi berikutnya dengan masing-masing 13,40 juta liter serta 12,89 juta liter. Sementara BPBD Kabupaten Pemalang menjadi yang terendah dalam penyediaan bantuan air bersih, yakni sebanyak 65 ribu liter.
Dalam data BPBD Jateng soal total bantuan air bersih yang disiapkan, hanya tercatat 28 kabupaten/kota. Artinya terdapat tujuh daerah yang belum tercantum. “Yang tidak ada dalam daftar berarti belum melaporkan atau tidak pernah terdampak. Misal Kota Solo dan Kota Magelang,” ungkap Bergas.
Daftar 28 BPBD kabupaten/kota yang menyiapkan bantuan air bersih, yakni: Kabupaten Klaten, Boyolali, Semarang, Blora, Purworejo, Wonosobo, Purbalingga, Wonogiri, Banjarnegara, Grobogan, Kebumen, Sragen, Jepara, Rembang, Cilacap, Tegal, Banyumas, Magelang, Temanggung, Kendal, Sukoharjo, Batang, Demak, Pemalang, Pekalongan, Kudus, serta Kota Semarang dan Salatiga.
Menurut Bergas, selain bantuan yang disiapkan BPBD, pemerintah daerah di Jateng dapat menambah pasokan air bersih melalui dengan menggandeng pihak swasta melalui program corporate social responsibility (CSR). Bergas mengatakan, peran BPBD Jateng nantinya akan menyokong wilayah-wilayah terdampak kekeringan.
“Tentunya kami pun tidak berdiri sendiri, tapi bersama teman-teman lain seperti PMI, Baznas, termasuk pemerintah pusat melalui BNPB,” kata Bergas. (Kamran Dikarma)







