Sukoharjo.rilisjateng.com – Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus. Petrus bertanya kepada Yesus, berapa kali ia harus mengampuni saudaranya yang bersalah, apakah cukup hanya sampai tujuh kali? Yesus menjawab bahwa bukan hanya tujuh kali, melainkan tujuh puluh kali tujuh kali, sebuah cara untuk mengatakan bahwa pengampunan tidak dibatasi oleh hitungan apapun. Yesus kemudian menceritakan perumpaan tentang seorang hamba yang berutang sepuluh ribu talenta kepada tuannya, jumlah yang mustahil dan sulit untuk dilunasi seumur hidupnya.
Namun ketika ia memohon belas kasihan, sang tuan tergerak hatinya dan menghapuskan seluruh utangnya. Tetapi begitu ia keluar dari hadapan tuannya, hamba itu justru mencekik temannya sendiri yang hanya berutang seratus dinar kepadanya, lalu memenjarakannya karena tidak mampu membayar. Mendengar hal itu, sang tuan murka dan menyerahkannya kepada algojo sampai ia melunasi seluruh utangnya. Perumpamaan ini di tutup dengan peringatan yang tegas, bahwa Bapa di surga-pun akan bertindak demikian jika kita tidak mengampuni saudara kita dengan tulus hati.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.
Perumpamaan ini menyingkapkan sebuah ironi yang barangkali sering terjadi dalam kehidupan kita, bahwa begitu mudah kita menuntut orang lain memenuhi kewajibannya, sementara kita sendiri telah menerima pengampunan yang jauh lebih besar dari Allah. Utang sepuluh ribu talenta yang dihapuskan oleh sang tuan adalah gambaran kasih dan kerahiman Allah yang tak terhingga kepada kita.
Kita semua adalah penerima kemurahan itu. Sehingga jika kita masih menyimpan dendam, menolak berdamai, atau memelihara luka batin terhadap sesama, sesungguhnya kita sedang melupakan betapa besar pengampunan yang telah lebih dahulu kita terima dari Allah.
Mengampuni bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan orang lain, namun mengampuni adalah memilih untuk melepaskan beban kebencian yang justru melukai diri kita sendiri. Pengampunan sejati lahir dari kesadaran bahwa kasih Allah kepada kita jauh lebih besar daripada kesalahan siapa pun kepada kita.
Sabda Yesus hari ini mengajak kita semua untuk menjadikan pengampunan sebagai gaya hidup, bukan sekadar peristiwa yang sesekali terjadi, sehingga relasi dengan sesama dapat semakin bertumbuh dalam kasih.
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus.
Sabda Tuhan hari ini juga sejalan dengan cita-cita Asta Program Prioritas Kementerian Agama, khususnya dalam penguatan moderasi beragama dan pemeliharaan kerukunan umat beragama sebagai fondasi kehidupan yang harmonis. Sikap saling mengampuni dan berbelas kasih adalah nilai universal yang menjembatani perbedaan iman, suku, golongan, dan lainnya.
Kita umat Katolik, diajak turut ambil bagian mewujudkan cara beragama yang santun, inklusif, dan menentramkan, sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam membangun ekosistem kehidupan beragama yang berkualitas dan toleran, sehingga negara Indonesia yang majemuk ini semakin kokoh dalam persaudaraan.
Maka, mulai hari ini marilah kita mengambil satu langkah nyata untuk mengampuni dengan tulus orang yang pernah menyakiti hati kita, menghindari sikap menghakimi, dan lebih mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap perselisihan, serta menjadi teladan kerukunan di tengah keluarga, komunitas, dan lingkungan kita yang majemuk.(***)







